Tamiang adalah salah satu sarana yang digunakan oleh masyarakat Bali, khususnya Hindu dalam upacara keagamaan.

Tamiang berasal dari kata “Tameng” yang memiliki arti alat penangkis senjata. Tamiang terbuat dari janur yang berbentuk bulat dan memiliki diameter berbeda-beda serta memiliki hiasan yang berbeda-beda. Tamiang dalam konteks menjaga keamanan Bali, masyarakat hendaknya memiliki kebertahanan diri. Dalam kaitan itu semua pihak memiliki tanggung jawab yang sama. Kita hendaknya merasa terpanggil untuk memelihara Bali yang selama ini telah memberikan banyak hal bagi kehidupan.

Dalam menciptakan rasa aman, umat di Bali menggunakan dua pendekatan baik sekala maupun niskala. Sekala-nya, masyarakat berupaya menciptakan rasa aman di lingkungan masing-masing. Menciptakan rasa aman mesti dimulai dari pribadi sendiri. Dengan berbekalkan kesadaran dari dalam diri, niscaya keamanan bisa tercipta.

Tamiang juga memiliki makna sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjukan sembilan arah mata angin. Dewata Nawa sanga adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Tamiang juga melambangkan perputaran roda alam cakraning panggilingan. Lambang itu mengingatkan manusia pada hukum alam Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tidak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam.

Karena makna yang tersaji sarat dengan kebaikan, menjaga alam Bali, mengambil filosofi dari “Tamiang”, yang hadir dalam logo Anak Kolonk Bali. Semoga kelak bisa memberikan sesuatu yang baik bagi masyarakat sekitar.